Pernyataan SikapPers RilisWadon Wados: Menganyam Perlawanan!

August 9, 2021by adminlbh0
https://i2.wp.com/lbhyogyakarta.org/wp-content/uploads/2021/08/WhatsApp-Image-2021-08-09-at-11.17.19.jpeg?fit=1040%2C780&ssl=1

SIARAN PERS

“Wadon Wados : Menganyam Perlawanan!”

Pada tanggal 7 Juni 2021 Ganjar Pranowo selaku Gubernur Jawa Tengah menerbitkan Pembaharuan Izin Penetapan Lokasi Pengadaan Tanah untuk Pembangunan Bendungan Bener Kabupaten Purworejo dan Wonosobo Jawa Tengah.

Rakyat Wadas menggugat Ganjar Pranowo atas penerbitan izin tersebut dan telah teregister dengan Nomor 68/G/2021/PTUN.SMG., karena tidak ingin keutuhan alam dan ruang hidupnya dirusak oleh rencana penambangan quarry.

Agenda persidangan hari Senin tanggal 9 Agustus 2021 adalah mendengarkan keterangan saksi/ahli Para Penggugat. Sebanyak 6 warga Wadas akan hadir memberi kesaksian.

Selain agenda persidangan, Wadon Wadas yang terdiri dari para perempuan Wadas akan menggelar aksi membuat besek di halaman PTUN Semarang. Aksi ini adalah simbol perlawanan mereka terhadap penetapan Desa Wadas sebagai lokasi tambang quarry untuk material pembangunan Bendungan Bener.

Besek atau kantong yang terbuat dari anyaman bambu adalah simbol menyatunya para perempuan Wadas (yang memiliki kemampuan nurturing dan caring) dengan Bumi Wadas yang subur. Penyatuan ini dihubungkan dengan tanaman bambu yang menjadi bahan dasar membuat besek.  Secara turun temurun tradisi perempuan menganyam bambu sudah ada  sehingga menjadi identitas diri, kultur, komunitas Wadon Wadas.

Ketika Desa Wadas ditetapkan sebagai tempat penambangan quarry, secara langsung akan berdampak pada perusakan lingkungan. Aktivitas penambangan ini akan menghancurkan pohon-pohon bambu, dan vegetasi lain yang menjadi ciri khas Desa Wadas. Hal ini secara simbolis akan memutus mata rantai kehidupuan  yang menyatukan wadon Wadas dengan bumi yang di rawat dan dihidupinya secara lestari. Akar sejarah, tradisi, dan budaya masyarakat dan wadon Wadas (khususnya)  menjadi hilang.

Selain itu, menganyam besek adalah jalan bagi wadon Wadas untuk hidup bermasyarakat (zoon politicon) dan esksistensi diri sehingga wadon wadas hingga saat ini tetap mempunyai identitas diri sebagai penganyam besek.  Pohon bambu  mereka rawat dan jaga tetap berdiri kokoh saat tertiup angin kencang, memiliki akar kuat dan batang yang bergerak searah dengan angin. Seperti halnya semangat perjuangan warga dan Wadon Wadas yang tetap kuat dan teguh melawan tambang apapun resikonya.

Identitas wadon Wadas yang telah di anyam sekian ratus tahun itu telah menyatu utuh, bahkan mampu menghidupi mereka tanpa harus mengeksploitasi dan mengkapitalisasi alam tanpa  keadilan, sehingga Bumi Wadas tetap terjaga dan berdiri kokoh hingga saat ini. Maka tak heran jika wadon Wadas terus menganyam besek  di berbagai ruang dan waktu untuk  mempertahankan bumi Wadas dari para penghisap alam yang rakus dan tak berkeadilan. Penambangan yang eksploitatif berarti akan menghancurkan identitas, ruang social, tradisi,  dan memutus relasi cosmic perempuan .

Selain aksi membuat (menganyam) besek, warga Wadas juga melakukan aksi membagikan 234 piti (besek kecil) yang berisi makanan kepada para pedagang kecil dan pekerja informal lain yang berada di sekitar PTUN Semarang. Makanan ini berisi hasil bumi yang dimasak oleh Ibu-Ibu Wadon Wadas. Pangan lokal dan besek sebagai wadah ramah lingkungan yang dibagikan ini merupakan wujud syukur warga Wadas terhadap Allah SWT atas keberadaan alam Wadas yang menjadi ruang hidup bagi masyarakat hingga anak cucu nanti.

Angka 234 sebagai pengingat peristiwa kekerasan dan represifitas aparat polisi di Desa Wadas yang terjadi pada tanggal 23 April 2021. Aparat hadir berencana melakukan sosialisasi dan pemasangan patok untuk keperluan penambangan quarry. Aparat memaksa masuk dan terjadi bentrokan dengan warga, mereka menarik, mendorong, dan memukul warga termasuk Ibu-Ibu yang sedang duduk bersholawat. Hal ini menjadi semangat perlawanan warga Wadas.

Pembagian makanan ini juga merupakan kepedulian Warga Wadas merespon situasi pandemi, dimana pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) ini sangat berdampak pada masyarakat kecil yang semakin sulit mencari penghasilan, sedangkan pemerintah abai untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Masyarakat wadas sudah sejahtera, dibuktikan dengan melimpahnya hasil bumi alam Desa Wadas. Makanan yang dibagikan tersebut diharapkan mampu menjadi berkah dan doa bagi Warga Wadas yang sedang memperjuangkan ruang hidup dan kelestarian lingkungan dari ancaman penambangan quarry.

 

Narahubung:

Insin Sutrisno (085244630194) GEMPADEWA

Era Hareva Pasarua (081215220149) Koalisi Advokat untuk Keadilan GEMPADEWA

 

#WadasMenggugat

#WadasGugatGanjar

#WadasMelawan

Jl. Benowo No.309, Winong, RT 12/RW 03, Prenggan, Kec. Kotagede, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55172

+ 62 (0274) 4351490